GALLERY

Pengantar Memahami Advokasi

Pengantar

Kamu dah pernah dengar istilah advokasi kan!!! Kira-kira apa ya, artinya? Saya yakin kamu-kamu kudu pernah dengar dengan advokasi. Ada yang mengatakan bahwa advokasi itu urusannya saja pak hakim, pak jaksa, polisi dan pengacara. Ya itu tidak salah. Tapi tidak sesempit itu makna advokasi. Dan tidak melulu harus sarjana hukum. Berarti kamu bisa melakukan advokasi to! Ya iyalah …… masa cuman sarjana hukum doang, apa kata dunia.

Untuk memahami advokasi. Saya ingin memberikan ilustrasi simpel. Kira-kira gini, di republik mimpi seorang siswa, namanya si Amin di pukul oleh seorang tak dikenal di pasar. Si Amin ini anggota komunitas logos. Lalu komunitas logos melakukan penelusuran (investigasi) terhadap pelaku pemukulan si Amin. Sementara anggota komunitas lainnya melaporkan kasus ini kepada kepolisian. Komunitas logos juga melakukan press conference atas kasus tersebut.

Dari ilustrasi tersebut apa pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, advokasi itu memang maknanya relatif luas. Bisa dimensinya hukum dan non hukum. Atau apa yang disebut litigasi dan non litigasi. Litigasi itu ya hal yang berhubungan dengan pengadilan dan perangkatnya. Sementara non litigasi itu diluar wilayah yudikatif (kekuasaan kehakiman) itu.

Kedua, selalu saja ada yang disebut dengan korban. Dalam kasus diatas, korbannya adalah si Amin. Atau ada persoalan/masalah.

Ketiga, kegiatan advokasi harus diorganisasi. Jadi kasus diatas nampak jelas bahwa ada pembagian peran. Ada yang melapor ke polisi, ada yang mencari data dan press conference.

Secara teologis (Ke-Islaman), advokasi ini merupakan risalah kenabian. Hampir semua nabi ulul azmi merupakan pelaku-pelaku advokasi yang baik di zamannya. Coba lihat bagaimana advokasi yang di lakukan Nabi Musa AS melawan kezaliman Fir’aun. Fir’aun tidak saja tega membunuh anak laki-laki, tetapi juga mengaku sebagai Tuhan.

Sebagai anak muda Islam (IPM), maka kita memiliki tugas kenabian (profetika) untuk membela sesama anak-anak sekolah dan kaum dhu’afa serta mustadha’afin. Cobalah lihat perintah Allah Swt di Al Qur’an ”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau ” [Q.S. An Nisa (4) : 75].

Dari ayat diatas, Allah Swt mempertanyaan kepada orang beragama (Islam), mengapa tidak mau membela orang-orang lemah (mustadha’afin). Bahkan dengan sangat tegas Al Qur’an menggunakan istilah sabili yang maknanya kira-kira adalah berperang atau berjuan untuk menolong orang-orang lemah itu.

Bagaimana melakukan advokasi?

Nah, sekarang bagaimana kalian mengorganisasikan sebuah gerakan advokasi? Sebab kata orang bijak kejahatan yang terorganisasi akan mengalahkan kebaikan yang semrawut atau tidak diorganisasi. Karena itu, advokasi harus diorganisasikan.

Pertama, memilih isu yang akan di advokasikan. Atau kasus apa yang akan di advokasi? Ini sangat penting sebagai langkah awal bekerja. Jika ada kasus pemukulan maka ini bisa dibawah dalam dua aktivitas advokasi yaitu sebagai kasus hukum dan isu kekerasan. Ini bisa di eksploitasi oleh gerakan advokasi.

Kedua, merumuskan tujuan dan target advokasi. Ini penting untuk memandu pelaku advokasi dalam melaksanakan kegiatannya.

Ketiga, melakukan analisis atau telaah terhadap kasus/isu yang ada. Fokuskan telaahnya pada siapa yang akan menjadi lawan dan kawan (koalisi/sekutu) kita dalam advokasi. Ini penting dalam membangun dan mempropagandakan isu atau kasus yang ada. Bisa juga untuk hal-hal yang penting melakukan riset.

Keempat, membangun opini publik (mempengaruhi orang banyak). Tahapan ini sangat penting dalam suatu kerja advokasi. Opini publik bisa dilakukan dengan propaganda media, brosur, spanduk, seminar atau publikasi lainnya.

Kelima, membangun jaringan dan koalisi. Jaringan dan koalisi dalam gerakan advokasi sangat penting dalam membangun legitimasi publik. Bahwa isu yang diperjuangkan didukung oleh banyak orang. Carilah organisasi yang memiliki visi perjuangan yang sama. Penting juga menghubungi tokoh-tokoh masyarakat.

Keenam, melakukan loby, pengaruhi dan mendesakkan kebijakan. Jika yang di advokasi adalah isu, misalnya kekerasan. Loby sangat penting kepada mereka-mereka yang memiliki hubungan dengan isu yang diperjuangkan. Misalnya isu pemukulan siswa, lobylah guru, kepala sekolah dan pejabat diknas atau pemerintah kota/kabupaten. Dalam proses loby, seorang pelaku advokasi harus bisa meyakinkan orang yang diloby dan bahkan pada tingkat tertentu melakukan tekanan/desakan lewat demonstrasi-demonstrasi di jalanan, menyegel kantor diknas atau sekolah, mogok makan dan lain-lain.

Ketuju, upaya hukum. Jika kasusnya adalah pemukulan, maka ini bisa dipidanakan. Oleh karena itu upaya hukum perlu dilakukan. Caranya dengan melaporkan kasus yang dialami ke polisi. Polisi akan melakukan penyidikan dan melimpahkan kepada jaksa. Setelah itu dilakukan sidang untuk membuktikan dan mengadili kasus tersebut.

Kedelapan, refleksi, yaitu bagaimana melakukan evaluasi terhadap gerakan yang dilakukan. Bagaimana dampaknya terhadap masalah yang dibela atau diavokasi. Jika berhasil, catat hal-hal penting dari keberhasilan itu dan jika gagal, kira-kira faktor apa saja penyebab kegagalannya.

Karena advokasi sering memberikan hasil yang parsial, suatu tim diperlukan untuk mengevalusi apa yang telah dicapai dan apa yang tetap harus dikerjakan secara teratur. Refleksi hendaknya digunakan sebagai langkah pertama dalam menganalisa kembali yang nantinya akan membawa kita pada siklus pekerjaan advokasi dan evaluasi yang terus menerus.

Catatan penutup

Intinya advokasi itu bisa dilakukan, tidak sulit. Dan setiap kamu bisa terlibat dalam upaya advokasi. Tetapi perlu dicatat, kerja advokasi itu lebih baik jika dilakukan oleh sebuah tim.

Jadi jelas, betapa kerja membela orang-orang lemah itu sangat mulia disisi Allah Swt dan merupakan kewajiban bagi orang beriman laki-laki dan perempuan. Tak terkecuali pelajar. Ia juga memiliki tanggungjawab membela. Siapa yang harus di bela? Sebagai seorang pelajar, maka tanggungjawab pembelaan adalah sesama pelajar yang kira-kira memiliki masalah.

Akhirnya selamat membela teman sebaya. Wallahu A’lam

Oleh: Masmulyadi(Mantan Ketua PP IRM masa khidmat 2006-2008, kuliah di Jurusan Sosek UGM dan bergiat di Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s